Melacak Jejak Seni Tradisional di Pangkep

by Penulis Palontaraq | Minggu, Jul 8, 2018 | 754 views
Buku "Seni Tradisional di Pangkep". (foto: mfaridwm/palontaraq)

Buku “Seni Tradisional di Pangkep”. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Judul Buku : Seni Tradisional di Pangkep
Penulis : M. Farid W Makkulau
Kata Pengantar: H. Djamaluddin Hatibu
Dicetak Oleh : Intifadah Press
Cetakan : Pertama, 2015
Penerbit : Pustaka Palontaraq/Pemkab Pangkep

SENI TRADISIONAL  adalah seni yang mengusung nilai dan pesan budaya dalam pertunjukannya dimana memiliki akar sejarah dan merupakan warisan leluhur dalam perkembangannya. Pesan dan nilai tersebut bisa saja nilai individu maupun nilai sosial sampai representasi kultur etnik tertentu. Bentuk-bentuk pertunjukan dalam upacara adat, sastra daerah dan permainan rakyat yang selama ini tumbuh berkembang dan dilestarikan oleh masyarakat pendukungnya merupakan bagian tak terpisahkan dari kesenian tradisional.

Buku "Seni Tradisional di Pangkep". (foto: ist/palontaraq)

Buku “Seni Tradisional di Pangkep”. (foto: ist/palontaraq)

Seni Tradisional sudah sejak lama dikenal oleh masyarakat rumpun Bugis dan Makassar. Rumpun Bugis dapat dikatakan terbesar di Sulawesi Selatan, mendiami wilayah kabupaten/kota, yakni Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, Sidenreng, Rappang, Luwu, Parepare, Pinrang, Barru, Bulukumba dan Pangkep. Dua kabupaten yang disebut terakhir merupakan daerah peralihan yang juga dihuni oleh rumpun Makassar. Diantara Seni Tradisional Masyarakat Bugis yang terkenal diantaranya ialah Sere Bissu, Pabbatte Passapu, Musik Padendang dan Sastra Tutur Massureq, sedang Rumpun Makassar menghuni wilayah kabupaten dan kota seperti Maros, Gowa, Makassar, Jeneponto, Takalar, Bantaeng, Selayar dan Pangkep. Seni tradisional  Makassar yang terkenal antara lain Tari Pakarena, Gandrang Bulo, Teater Kondo Buleng dan Sastra Tutur Sinrilik.

Karya-karya seni tradisional pada tingkat awal, lahir karena berhubungan dengan kepercayaan masyarakat. Hal ini berkaitan dengan pemujaan terhadap arwah nenek moyang ataupun kekuatan gaib atau magis lainnya dengan harapan akan terhindar dari bahaya, penyakit serta mendatangkan keberkahan. Masyarakat primitif (berburu) pada masa lampau percaya pada tenaga mana yang disebut punya mengandung kekuatan magis. Dengan kekuatan gaib itu, mereka ingin menguasai binatang yang diburunya sehingga dibuatlah lukisan pada dinding gua dan tebing. Binatang yang ingin diburu dilukis dalam keadaan terkena anak panah atau tombak. Sambil melakukan gerakan ritmis mengitari api unggun mengucapkan mantra sambil menusukkan panah atau tombaknya pada lukisan di dinding gua.

Buku "Seni Tradisional di Pangkep" dan Mandoling, salah satu alat musik tradisi khas Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Buku “Seni Tradisional di Pangkep” dan Mandoling, salah satu alat musik tradisi khas Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Demikianlah, bahwa tarian maupun nyanyian yang menirukan gerakan dan suara telah ada pada zaman pra-sejarah untuk mendapatkan kekuatan gaib. Masyarakat Makassar misalnya, pada upacara persembahan keatas (appanaik) dan persembahan kebawah (appanaung) tervisualkan pada gerakan tangan tari, semisal Tari Pakarena. Semua gerakan dalam tari Pakarena mempunyai makna simbolis dan filosofis yang berdasarkan pada alam pikiran masyarakat pada masa itu. Adalah kenyataan yang sukar dipungkiri bahwa sejumlah seni tradisional di Sulawesi Selatan lahir dari daerah yang dulunya adalah pusat kerajaan yang notabene juga adalah pusat kebudayaan.

Dari Pusat-pusat kebudayaan itulah ragam bentuk seni tradisional mengalami perkembangan dan penyebaran di berbagai daerah. Pada masa awal perkembangan Islam, masyarakat Kerajaan Gowa-Tallo serta masyarakat kerajaan kecil dibawah dominasinya, termasuk Kerajaan Siang/Barasa masih mempertunjukkan tarian yang disebut Sere’ atau Jaga, dimaksudkan untuk mengusir garring pua atau wabah penyakit menular (sampar) dan pa’repatunuba rinring yang berarti ancaman bahaya kelaparan. Semua penguasa lokal pun dihimbau untuk mengadakan upacara memandikan dan mengarak keliling pusaka (kalompoang). Dalam upacara itu terdapat Tari Salonreng yang berfungsi sebagai tarian upacara untuk melepas nazar (palappasa tinja’).

Ilustrasi. Penulis memainkan kecapi (foto: ist)

Penulis dan Buku “Seni Tradisional di Pangkep” (foto: ist/palontaraq)

Sebagai bekas wilayah Kerajaan Segeri, Lombasang (Labakkang), Siang, dan Barasa, tak banyak Seni Tradisional yang diketahui eksistensi dan perkembangannya selain Seni Tari Pakarena Burakne (Pamingki) yang dipertahankan oleh Sanggar Seni Anrong Appaka dan Seni Tari Maggiri yang masih terjaga dan dilestarikan oleh Komunitas Bissu. Menurut sejarahnya, para bissu ini merupakan benteng terakhir penjaga tradisi Bugis kuno. Mereka terdiri dari para waria sakti yang menguasai Basa Torilangi (Bahasa Dewata) sehingga diyakini mampu berkomunikasi dengan arwah leluhurnya dan membaca masa depan. Kesaktian Bissu ini terlihat dalam Tarian Maggiri’ (menusuk diri dengan keris) yang tarian spiritual para Bissu usai melakonkan pelaksanaan upacara adat.

Budaya Sulawesi Selatan juga kaya akan permainan rakyat yang sejatinya merupakan bagian tak terpisahkan dari perkembangan seni tradisional pada umumnya. Seni Tradisional yang masih berkembang hingga kini di Pangkep merupakan proses pergumulan budaya Bugis Makassar di wilayah Pangkep. Pangkajene yang masih kuat hubungan kekerabatannya dengan Luwu dan Wajo, Segeri dengan Tanete dan Bone, Labakkang dengan Gowa, serta dengan daerah lainnya. Hubungan kekerabatan yang lebih luas lagi mempengaruhi banyak aspek: kawin-mawin, sastra daerah, permainan rakyat, serta seni tradisional yang juga mengalami perubahan bentuk, baik secara tampilan maupun esensinya.

Buku "Seni Tradisional di Pangkep". (foto: mfaridwm/palontaraq)

Buku “Seni Tradisional di Pangkep”. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Tidak mudah menelisik lebih jauh sejarah awal perkembangan seni tradisional di Pangkep, khususnya karena terlalu banyak bagian wilayah yang belum diteliti, baik sejarah maupun budaya khasnya tiap kecamatan. Hal ini diperparah lagi dengan kenyataan bahwa geografi wilayah daerah ini berkarakter tiga dimensi: dataran rendah, kepulauan dan pegunungan. Masih terbatasnya inventarisasi seni tradisional di wilayah kepulauan dan pegunungan juga menjadi kendala berat dalam penulisan dan penyusunan buku profil seni tradisional di Pangkep, meski begitu langkah awal harus ada dan untuk itulah buku ini hadir di tangan pembaca sekalian.(*)

Like it? Share it!

Leave A Response