Mempopulerkan Sejarah dan Kebudayaan Pangkep

foto by: ist/palontaraq

foto by: ist/palontaraq

Judul Buku: Sejarah dan Kebudayaan Pangkep (edisi revisi)

Penulis: M Farid W Makkulau

Desain Sampul/Lay Out: Manunggal Utama Press

Penerbit: Infokom Pemkab Pangkep

Cetakan 1:  Agustus 2007

Jumlah Halaman:  xv +  290 halaman; 15  x 20 cm

 

Buku ini (edisi revisi Tahun 2007, terbitan pertama Tahun 2005) boleh dibilang buku pertama yang cukup lengkap mengurai Sejarah dan Kebudayaan Pangkep. Sebelumnya buku dengan tema yang sama hanya berupa pembahasan tentang fragmen sejarah atau fragmen budaya.  Dalam konteks pengadaan literatur atau kepustakaan sejarah Sulawesi Selatan, Kabupaten Pangkep boleh dibilang sangat minim dan bahkan boleh dibilang tidak ada satupun buku yang mengurai sejarah derahnya. Umumnya yang dikenal hanya Sejarah Bone, Gowa, Luwu, dan yang lainnya.

Beberapa pemerhati sejarah dan budaya di Pangkep menganggap buku ini cukup monumental, terlepas dari segala hal yang masih luput dari pembahasan dan kelengkapannya.  Buku inilah yang pertama kali hadir memberikan penerangan mengenai sejarah dan kebudayaan Pangkep. Sebelum itu,  sama sekali tidak ada  gambaran utuh mengenai  Sejarah Pangkep, dari sejak jaman prasejarah sampai era pemerintahan otonomi daerah. Begitupula dengan  yang dimaksud “Kebudayaan khas Pangkep”.

Buku Sejarah dan Kebudayaan Pangkep (terbitan 2007) dan Sejarah Kekaraengan di Pangkep (terbitan Tahun 2008). (foto: ist/palontaraq)

Buku Sejarah dan Kebudayaan Pangkep (terbitan 2007) dan Sejarah Kekaraengan di Pangkep (terbitan Tahun 2008). (foto: ist/palontaraq)

Penerbitan buku ini  dimaksudkan sebagai upaya mengisi kekosongan pengetahuan tentang kesejarahan kuna Kerajaan Siang (halaman 23-114) dan Kerajaan Lombasang yang merupakan nama tua dari Labakkang (halaman 115-124).  Kabupaten Pangkep dalam konteks kesejarahannya, merupakan daerah bekas pusat wilayah pemerintahan Kerajaan Siang, salah satu kerajaan tertua di semenanjung barat Sulawesi Selatan, bahkan keberadaannya diyakini sekitar 200 tahun lebih tua dibandingkan dengan Kerajaan Gowa-Tallo dan Kerajaan Bone. Begitupula dengan Kerajaan Lombasang.

Sebagai buku yang dihadirkan pertama, untuk motivasi bagi kepenulisan buku sejarah berikutnya, Sejarah Kerajaan hanya dibahas Siang dan Lombasang, sedangkan pada periode berikutnya, era pemerintahan kekaraengan dibahas penulis yang sama dalam buku “Sejarah Kekaraengan di Pangkep”, setahun setelahnya (Tahun 2008). Buku ini selengkapnya berisi 290 halaman, yang dibagi dalam 13 Bab, serta dilengkapi catatan kaki (footnote) dan glosari untuk memudahkan pemahaman pembaca pada setiap pembahasannya.

Buku ini mengawali pembahasan dengan memberikan uraian umum tentang kondisi daerah, profil wilayah, potensi sumber daya alam dan manusianya, serta periodisasi sejarah yang dilekatkan pada sejarah Sulawesi Selatan, dan secara khusus titik temunya untuk mengurai Sejarah Kabupaten Pangkep. Semuanya dibahas dalam Bab Pendahuluan (halaman 1-10), dilanjutkan dengan pembahasan Tinjauan Umum Kesejarahan dan Kebudayaan Pangkep (halaman 11-22).  Pembahasan sejarah diawali dengan mengurai Sejarah Perlawanan Rakyat Pangkep melawan Penjajahan Asing (halaman 125-138), Kabupaten Pangkep dalam Tinjauan Sejarah Pemerintahan Daerah (halaman 139-154), serta Sejarah dan Tradisi Masyarakat Islam di Pangkep (halaman 155-174)

Dari aspek budaya, Buku ini hadir memberikan pemahaman tentang kebudayaan khas Pangkep, dalam kaitannya dengan  adat istiadat, “panngadakkang/panngadderreng”, profil dan kecenderungan masyarakat,  stratifikasi sosial dan sistem kekerabatan, seni tradisional dan permainan rakyat, agama dan kepercayaan, serta bahasa daerah. Pembaca dapat menemukan pembahasan tentang Pertumbuhan Bahasa dan Sastra Tradisional di Pangkep (halaman 175-190), Falsafah Hidup, Stratifikasi Sosial, dan Sistem Kekerabatan (halaman 191-214), Seni Tradisional, Permainan Rakyat dan Ragam Upacara Adat (halaman 215-238), serta Kekhasan Budaya dan Kehidupan Sosial Masyarakat Pulau di Pangkep (halaman 239-260)

Menyadari pentingnya pembelajaran muatan lokal, sejarah dan kebudayaan Pangkep untuk diperkenalkan, diajarkan dan disosialisasikan di sekolah, sebagai penulis buku ini berharap agar selayaknyalah jika pemerintah daerah tidak tinggal diam, khususnya Dinas Pendidikan Nasional, Dinas Kebudayaan, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah serta DPRD Pangkep untuk turut serta mempopulerkan sejarah dan kebudayaan daerah Pangkep. Ada baiknya jika dapat diselenggarakan seminar dengan tema yang sama, menyosialisasikannya ke berbagai sekolah dan memasukkannya sebagai salah satu unsur pelajaran yang masuk dalam muatan lokal.(*)

Like it? Share it!

Leave A Response