Beranda Narasi Sejarah Mempertanyakan Sejarah Arung Sabila di Pangkep

Mempertanyakan Sejarah Arung Sabila di Pangkep

Makam Arung Sabila di Minasatene. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Makam Arung Sabila di Minasatene. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

Tulisan Sebelumnya: Tambara, Herba Pembangkit Kematian dari Tondongkura

PALONTARAQ.ID – SIAPA itu Arung Sabila? Tak banyak orang yang mengenalnya, termasuk orang yang mengunjungi makamnya di Kampong Panrokoe, perbatasan Kelurahan Minasate’ne dengan Kampung Salo’ Tallang Kelurahan Kalabbirang. Kedua kelurahan ini masih termasuk dalam wilayah Kecamatan Minasate’ne Kabupaten Pangkep.

Dari beberapa penelusuran yang penulis lakukan, berdasar pada narasi tutur yang berkembang sampai saat ini, didapatkan keterangan bahwa nama yang dikuburkan dalam kompleks Makam Arung Sabila tersebut ialah Siti Fatimah Nakhaerul Jannah, yang dikenal pula dengan nama Karaeng Se’rea Sayanga Diayuganna Ammalisi.

"Kuburan" dalam Kompleks Makam Arung Sabila. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Patung “Kuburan” Kelabang dalam Kompleks Makam Arung Sabila. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Entah bagaimana asal muasal ceritanya, Disebutkan dari beberapa sumber bahwa Karaeng Se’rea Diayuganna Ammalisi ini pernah menjadi kelabang.

Sumber tersebut mengatakan bahwa itulah sebabnya makamnya membentuk layaknya kuburan kelabang besar. Entah yang mana benar? Bisa jadi juga kedua keterangan ini salah, karena tidak ada sumber konfirmasi yang menguatkannya.

Makam Arung Sabila ini dibuat sekitar Tahun 1802 oleh seorang berkebangsaan cina yang bernama Cing Cang Hai. Tentu saja ini hanya prediksi, yang boleh jadi juga hanya karangan belaka.

Begitu pula dengan nama Cing Cang Hai, yang disebut sebagai orang China yang menempatkan makam tersebut di Kampung Panrokoe. Nama Arung Sabila sendiri menurut penulis, masih kabur dan perlu konfirmasi arkeologi dan catatan lontaraq, tentang banyak asal usul Arung Sabila itu.

Bangunan Makam dalam Kompleks Makam Arung Sabila. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Bangunan Makam dalam Kompleks Makam Arung Sabila. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Makam Arung Sabila sendiri dibuat seperti layaknya rumah adat Sulawesi Selatan karena adanya keinginan masyarakat sekitar untuk mengenang jasa beliau semasa hidupnya.

Umumnya orang yang sering berziarah di makam Arung Sabila berasal dari Kabupaten Bone, Kota Makassar, Kabupaten Maros, Barru, Parepare, dan dari Pangkep sendiri.

Banyak orang percaya patung kelabang yang terdapat pada Makam Arung Sabila ialah pertahanan dari beliau dan kebijaksanaan beliau yang panjang serta banyak orang mengatakan bahwa beliau pernah menjadi kelabang dan kembali ke wujud manusia.

Legenda menarik dari Makam Arung Sabila ialah adanya Lipang Putih yang tinggal di gua yang berada di atas gunung, tepatnya di samping Makam Arung Sabila.

Masyarakat sekitarnya tetap percaya bahwa lipang putih tersebut masih hidup dan tinggal di goa tersebut. Selain cerita tentang Lipang Putih, adapula legenda tentang ular raksasa  yang menjaga Makam Arung Sabila tersebut sebagai pengganti Lipang Putih yang tidak pernah menampakkan dirinya lagi.

Sungai kecil, yang disebut Salo Tallang ini berada tak jauh dari Makam Arung Sabila, di sekitar sungai ini diyakini terdapat gua (foto: mfaridwm/palontaraq)
Sungai kecil, yang disebut Salo Tallang ini berada tak jauh dari Makam Arung Sabila, di sekitar sungai ini diyakini terdapat gua tempat bersembunyinya lipang putih (foto: mfaridwm/palontaraq)

Penulis sendiri, sebagaimana juga telah dijelaskan dalam Buku “Sejarah Kekaraengan di Pangkep” (Pustaka Refleksi, 2008) dan begitu juga penulis sejarah lainnya mengaku kesulitan untuk mendapatkan konfirmasi sejarah Arung Sabila.

Hanya saja di buku itu disebutkan asumsi bahwa skenario sejarah itu boleh jadi bermula dari “Perang Saudara” atau yang lazim disebut “Bundu Pammanakang” di sekitar Pangkajene saat ini (Pabundukang), yang melibatkan laskar perang Gowa melawan Bone.

Nah, Arung Sabila itu diyakini sebagai bangsawan Bone yang gugur dalam perang tersebut. Namun sampai saat ini  asal usul Arung Sabila itu sendiri masih kabur, baik dari sumber tertulis maupun dari narasi tutur. (*)

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT