Beranda Sosial Budaya Narasi Budaya Waria dan Umpatan Sundala'

Waria dan Umpatan Sundala’

Waria (foto: reddit/palontaraq)
Waria (foto: reddit/palontaraq)

Oleh: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – DALAM  perjalanan malam pulang dari Kota Makassar ke Pangkep, karena kelelahan dan ngantuk, penulis biasanya memanfaatkan waktu dalam perjalanan itu untuk tidur. Hal ini sudah menjadi kebiasaan lama sejak mengenal angkutan umum yang namanya pete-pete, khususnya kalau dalam perjalanan jauh.

Bagi penulis, tidur di angkot pete-pete merupakan satu kenikmatan tersendiri. Semilir angin yang tertiup lewat jendela mobil berkapasitas 11 penumpang itu tak kalah nikmat dibanding kalau kita nginap di kamar hotel ber-AC.

Karena ingin menikmati tidur, biasanya penulis berpesan ke pak sopir agar dibangunkan satu jam kemudiannya. Tapi suara gaduh dalam perjalanan malam itu benar-benar membuat tidak nyaman. Terdengar suara sundala’ yang memekakkan telinga.

Ternyata penulis satu angkot dengan tiga orang bencong (waria). Ketiganya terlibat seru pembicaraan mengenai ’pacar’ masing-masing. Diantara mereka tidak ada yang mau mengalah, mereka satu sama lain saling membanggakan pacarnya. Pada saat yang bersamaan, merekapun satu sama lain menjelekkan pacar temannya.

Perjalanan malam menempuh jarak sekitar 50 km dari Kota Makassar ke Pangkep itu benar-benar tidak mengenakkan. Terdesak oleh himpitan badan penumpang lain dan pada saat yang sama pembicaraan trio bencong itu semakin memanas.

Salah seorang diantaranya mengatakan, ”ide’e kabbulamma, sundala, tanja’nae”. Teman yang satunya lagi menimpali, ”apa tong kau, ana’ sundala? Bencong?”  Yang terakhir mengatakan, ”ide’e galle, para bencong jaki!”

Penulis terhenyak, terpukau oleh diksi yang diucapkan tiga waria itu. Boleh dikata hampir 10 tahun terakhir ini, kata-kata seperti kabbulamma dan sundala’ barusan lagi malam itu penulis dengar.  Semakin larut malam, semakin banyak kata kotor yang terdengar dari mulut ketiganya.

Penulispun semakin takjub, karena diksi seperti io, i-kau, tilaso, kabbulampe, sundala, callege-lege, kabulator begitu familiar di kalangan mereka.  Apakah mereka punya semacam kesepakatan internal menyangkut bahasa, kebiasaan, atau perilakunya untuk membedakan komunitas para waria ini?

***

Tata Krama adalah kebiasaan baik yang lahir dari hubungan antar manusia, baik menyangkut bahasa (Makassar: kana-kana atau pau-pau; Bugis: sadda) ataupun perilaku (Makassar: panggaukang) yang disepakati bersama, baik secara langsung maupun secara tidak langsung dimana dinilai baik, sopan, santun untuk dipraktekkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Budaya atau kultur  yang dianut dan dikembangkan itu mengandung sejumlah sistem nilai atau sistem adat. Sehingga semakin kokoh entitas budaya masyarakat, semakin berkemampuan dan berkompetensi pulalah masyarakat tersebut dalam mengembangkan kualitas kehidupan pribadi serta kelompoknya. Kita hidup dalam kurun waktu yang ditandai dengan aneka ragam perubahan yang sangat cepat dalam berbagai segi kehidupan.

Seiring dengan perubahan itu, terjadi pula perubahan cara memandang dan menafsirkan norma kehidupan. Apa yang dulu dianggap  aksioma, tabu, pantangan, atau kasipalli kini dipertanyakan, didiskusikan, dan dibahas.

Apa yang dulu dibungkus rapat kini disingkap lebar.  Apa yang dahulu dilarang untuk diperbincangkan di depan umum, kini malahan sudah dianggap biasa dan orang tak malu lagi mengatakannya. Tabu menjadi tabuhan. Tabuhan menjadi tabu, larangan menjadi anjuran. Anjuran menjadi larangan.

Tahap serba tak pasti tentang tata krama ini ditandai oleh gesekan dan benturan berbagai norma, sangat terasa dalam menerapkan kaidah sopan santun. Yang sopan dan yang santun dalam berpakaian, makan, berjalan dan berbicara serta bergaul setidak-tidaknya menjadi kurang jelas.

Dahulu pada banyak masyarakat, kalau orang tua memarahi anaknya, sang anak bukan saja tak boleh mengajukan keberatan atau membantah, menatap mata orang tuapun dianggap keterlaluan.

Tata Krama dan Etika Sosial  bagi orang Bugis Makassar penting diajarkan kepada anak dengan maksud untuk melatih kehalusan bahasa dan budi pekerti anaknya. Mereka takut dan khawatir anaknya akan berbuat aib atau mempermalukan keluarganya (appakasiri) hanya karena tidak tahu berbahasa yang baik menurut adat. Jika terjadi demikian, sering kita mendengar umpatan, tau tena pangngadakkangna (Bugis : deqgaga pangngaderrengna).

Sebuah ungkapan yang dianggap kurang ajar.  Hal ini tentu bukan saja berdampak pada sang anak, tetapi juga pada orang tuanya, yang berarti masyarakat bisa menilai bahwa orang tua anak tersebut kurang memberikan nasehat dan pelajaran tentang tata krama dan sopan santun.

Dalam hubungannya dengan kasus yang  penulis alami diatas, nampaknya di saat masyarakat umum sudah jengah dan bosan dengan pemakaian diksi  yang tidak pantas seperti sundala, tilaso, kabbulamma, kabbulampe ternyata ada satu komunitas yang justru  melestarikan kosakata tersebut.

Anehnya, Para waria ini semakin hari semakin banyak dan  semakin tak terkontrol perilakunya di depan publik. Mereka banyak mengumbar kata kotor serta semakin menonjolkan aspek sensualitas dan seksualitasnya. Uniknya, mereka berorganisasi pula. Ditambah lagi, masyarakat seakan dibuat bergantung dengan kehadirannya, khususnya dalam urusan merias pengantin, menata lamming (pelaminan), bahkan untuk sekedar cukur rambut sekalipun.

Waria ikut-ikutan baris berbaris dalam Perayaan HUT Kemerdekaan (foto: picstopin/palontaraq)
Waria ikut-ikutan baris berbaris dalam Perayaan HUT Kemerdekaan (foto: picstopin/palontaraq)

Dahulu kehadiran seorang waria (Makassar: calabai; bencong) dapat dianggap aib dalam masyarakat sehingga mereka harus diusir atau diasingkan, paling tidak mereka tidak dibiarkan berkeliaran keluar masuk kampung.

Sekarang malah mendapatkan posisi dibutuhkan dalam masyarakat. Mengkhawatirkannya karena kata sundala’  khas mereka bukanlah kata eksklusif, tapi kata yang setiap saat terlontar begitu saja tanpa pandang situasi dan kondisi.

Kehadiran para waria ini semakin tak terbendung, apalagi kemudian banyak anak sekolah yang ikutan terjalari oleh ujaran kata mereka dan  malahan bergaul dengan akrab dengan komunitasnya.

Pemerintahpun ikut latah dengan memfasilitasi berbagai lomba dan kontes waria yang dilaksanakan.  Nampaknya, ”kalo ndak sundala’, ndak bencong banget gitu loh”.  Banyak teman yang awalnya ternganga mendengar penjelasan penulis mengenai ’kemajuan’ para waria ini.

Salah seorang teman penulis yang mahasiswa S2 tertarik meneliti mengenai hal ini setelah saya ceritakan bahasa, perilaku dan kebiasaan komunitas waria ini memberikan ’solusi brilian’, ”Bagaimana kalo kita dorong pemerintah daerah melalui Pol PP-nya dan elemen masyarakat terdidik untuk melaksanakan ’Operasi Bencong’ atau ’Sweeping Waria’, karena kalau mereka sudah banyak sekali dan mereka bebas mengumbar seks sesama jenis, ini akan mengundang datangnya azab Allah?” Mendengar saran teman tersebut, giliran penulis yang ternganga dan tak dapat berkata apa-apa.

“Mesti Segitunyakah?”

Mohon tanggapan dan masukannya. Tabe’, Mariki di’ (*)

Tulisan Terkait:

Waspadai Lahirnya Lesbian di Lingkungan Sekolah

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...