Sosial Budaya Ma’barazanji’ dalam Kultur Bugis Makassar

Ma’barazanji’ dalam Kultur Bugis Makassar

-

- Advertisment -

Penulis dalam suatu acara budaya di Biringere,Pangkep. (foto: mursalam/palontaraq)
Penulis dalam suatu acara budaya di Biringere,Pangkep. (foto: mursalam/palontaraq)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

Tulisan Sebelumnya:Memahami ‘Lontaraq’: Aksara, Tulisan atau Pustaka?

PALONTARAQ.ID – SUATU hari saya diperhadapkan pada kejadian memalukan saat menghadiri undangan malam paccing pengantin anak tetangga. Ketika itu sang imam kampung yang biasa memimpin barzanji berhalangan hadir, sehingga kitab barazanji-pun yang sekiranya dapat dibaca bergiliran di malam paccing itu juga tidak ada.

Karena terdesak waktu dan undangan sudah banyak yang hadir, akhirnya kepada hadirin saya mengungkapkan, “engkama kitta’ barazanji koe bolae” (b. Bugis: ada kitab barzanji di rumah).

Memang enam bulan lalu penulis menyempatkan diri membeli buku Kitab Barazanji di Toko Buku Thoha Putera depan Kampus UIN Alauddin Makassar dan karena kesibukan, kitab barazanji tersebut belum sempat saya buka dan periksa isinya, apalagi membacanya.

Karena kitabnya baru dan belum pernah tersentuh, saat kitab tersebut saya sodorkan ke pembantu imam, dia kesulitan mendapatkan halaman bacaan awal pembukaan barazanji. Nampaknya dia juga kurang familiar dengan bacaan barzanji.

Saat itu, hampir semua jamaah dan undangan yang hadir bersamaan menoleh ke saya meminta halaman bacaan awal pembukaan barazanji.

Lihat pula: Ayam dalam Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan

Ruangan itu langsung gaduh saat saya menjawab, “de’to ussengi iya” (b. Bugis: saya juga tidak tahu).  Apa yang saya alami merupakan satu gejala hilangnya atau semakin berkurangnya penerus pembaca barzanji. Padahal ma’barazanji merupakan satu rangkaian acara dalam setiap upacara adat ‘siklus hidup’ dalam masyarakat Bugis Makassar.

***

Benang merah antara agama dan budaya itu tentu sudah lama menorehkan sejumlah masalah, baik dari segi subtansinya, maupun tanggapan yang berkembang di tengah masyarakat.

Diantara sekian banyak perdebatan itu antara lain menyangkut pembacaan barzanji (mabbarazanji), perayaan maulid (ammaudhu’) dengan segala baku’ dan kanre maudhu’-nya, asyura (ajjepe syura), upacara-upacara adat dan tradisi yang berkaitan dengan perayaan siklus hidup seperti: alahere (kelahiran), aqeqah (akikah), appatamma (penamatan/khatam Alquran), khitanan adat (assunna), appabunting (perkawinan), dan ammateang (kematian).

Begitu pula upacara adat lainnya seperti menre bola, mappalili, mappadendang, mattemmu taung), ziarah kubur (assiara ri kobbang), apparuru lopi atau ammocci biseang, appanaung, appanaik, dan lain sebagainya. Setiap upacara adat dan tradisi tersebut selalu disertai dengan pembacaan kitab barzanji.

Hal ini terjadi pula pada Perayaan Hari-hari besar islam dengan nuansa dan warna sinkretisme, seperti perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan rentetan acaranya sebagai berikut: Appakarammula (Permulaan/Pembukaan Acara), Ammone Baku (Pengisian Bakul Maulid), Ammode’ baku (Menghias Bakul Maulid),  Angngantara’ Kanre Maudu’ (Menikmati Sajian Makanan Maulid),  Pannarimang Kanre Maudu’ (Penerimaan Makanan Maulid), A’rate atau Assikkiri’ (Pembacaan Talqin/Zikir), Pammacang Salawa (Pembacaan Shalawat), Pattoanang (Penyajian Makanan kepada Tamu), Pabbageang kanre maudu (Membagikan Makanan Maulid).

Perayaan hari-hari besar islam yang juga menghadirkan pembacaan “zikkiri-barazanji”, selain Maulid Nabi adalah : Isra Mi’raj, Sepuluh Muharram, bahkan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, masih banyak masyarakat menyelenggarakan barzanji atau mengundang “pabaca doang” (Pembaca Doa, biasanya imam kampung atau anrong guru) ke rumahnya untuk membacakan segala jenis dan rupa makanan, yang diiringi bau asap kemenyan.

Lihat pula: Perjanjian dalam Sejarah Sulawesi Selatan

Dalam pandangan agama (Islam), hal tersebut bisa dianggap musyrik (menyekutukan Allah) atau “bid’ah” (tidak ada dalam syariat Islam/tidak ada tuntunannya sebagaimana yang pernah dicontohkan dalam kehidupan Rasulullah SAW).

Seperti diketahui, Agama Islam masuk di Sulawesi Selatan, dengan cara yang sangat santun terhadap kebudayaan dan tradisi masyarakat Bugis Makassar.

Bukti nyata dari sikap kesantunan Islam terhadap budaya dan tradisi Bugis Makassar dapat kita lihat dalam tradisi-tradisi keislaman yang berkembang di Sulawesi Selatan hingga kini, seperti mengganti pembacaan kitab La Galigo dengan tradisi pembacaan barzanji.

Barzanji sebenarnya adalah sebuah kitab yang berisi sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, dalam setiap hajatan dan acara, doa selamatan, bahkan ketika membeli kendaraan baru, dan lain sebagainya.  Tradisi Mabbarazanji ini merupakan bukti terjadinya asimilasi damai dengan budaya Bugis Makassar.

Dengan semakin berkurangnya orang yang bisa membaca kitab barzanji, apakah ini merupakan awal kehancuran atau hilangnya tradisi masyarakat Bugis Makassar terkait perayaan atau penyelenggaraan upacara siklus hidup (alahere, aqeqah, appatamma, khitanan adat (assunna), appabunting, dan ammateang), ataukah akan muncul tradisi baru, tradisi lama tanpa pembacaan kitab barzanji, ataukah dengan gejala ini, merupakan suatu awal yang bagus bagi masyarakat islam bugis makassar untuk meninggalkan dan menanggalkan tradisi budayanya yang ‘kurang islami’, dan apakah benar membaca kitab barzanji merupakan suatu hal yang bid’ah dalam pandangan ajaran Islam. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you