Larangan Mendaki Gunung bagi Penderita Penyakit ini

Para penikmat gunung- Mendaki gunung perlu kesiapan fisik yang matang. (foto: haspar)

Para penikmat gunung- Mendaki gunung perlu kesiapan fisik yang matang. (foto: haspar)

Aktifitas mendaki gunung saat ini menjadi trend di kalangan anak muda, bukan semata karena hobi mendaki gunung atau mencintai alam, sebagian diantaranya karena ingin menunjukkan eksistensi dan narzisme di sosial media. Aktifitas mendaki gunung sebenarnya bukanlah aktifitas yang ringan sehingga sangat berbahaya jika pegiat sosial media yang tak pernah mendaki gunung kemudian tiba-tiba ingin ikut-ikutan hanya untuk menunjukkan eksistensi sedang berada di gunung.

Aktifitas mendaki gunung perlu kesiapan fisik yang bagus dan matang. Resiko yang sangat serius dari cedera hingga kematian mendadak dapat terjadi apabila seseorang yang memiliki riwayat penyakit tertentu melakukan pendakian gunung.
Beberapa faktor yang perlu diperhitungkan sebelum mendaki gunung, diantaranya ialah kesiapan kondisi personel dan rekan sesama pendaki, pemahaman terhadap kondisi medan yang dilalui, perbekalan dan kelengkapan yang mesti dibawa serta kondisi cuaca.

Penulis pada salah satu sisi pegunungan Bulu Tellue, Tondong Tallasa,Pangkep. (foto: bagas/ist)

Penulis pada salah satu sisi pegunungan Bulu Tellue, Tondong Tallasa,Pangkep. (foto: bagas/ist)

Bagi penderita penyakit dibawah ini, maka tidak dianjurkan untuk melakukan pendakian atau ikut mendaki gunung.

1. Gangguan Jantung (Kardio)

Aktifitas mendaki gunung adalah sebuah aktifitas yang berintensitas berat, sehingga dapat meningkatkan kerja jantung. Jadi, seseorang yang menderita gangguan jantung sebaiknya tidak melakukan aktifitas mendaki gunung. Karena seorang pendaki gunung yang memiliki riwayat gangguan jantung, memiliki resiko kematian mendadak akibat serangan jantung ketika melakukan aktifitas pendakian gunung.

2. Darah tinggi (hypertensi)

Meski tdk memiliki gangguan jantung, seseorang dianjurkan untuk tidak melakukan aktifitas mendaki gunung jika punya riwayat hipertensi atau tekanan darah tinggi. Aktivitas fisik yang berat seperti pendakian gunung akan semakin meningkatkan tekanan darah dan dampaknya bisa sangat buruk bagi jantung dan pembuluh darah.

Penulis bersama para penikmat wisata pegunungan. (foto: bagas/ist)

Penulis bersama para penikmat wisata pegunungan. (foto: bagas/ist)

3. Gangguan Paru-paru

Gangguan Fungsi paru-paru karena sesak napas maupun sekedar flu bisa berbahaya jika dibawa naik gunung. Selain kadar udara di ketinggian memang tipis, menurunnya kemampuan paru-paru dalam menyerap oksigen membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk mendistribusikan oksigen yang hanya sedikit.

4. Glaukoma

Resiko kerusakan mata saat mendaki gunung juga perlu diwaspadai jika memiliki riwayat glaukoma atau meningkatnya tekanan bola mata meskipun kondisinya tidak terlalu parah. Saat mendaki medan terjal, seseorang cenderung mengejang sehingga tekanan rongga perut meningkat lalu diikuti juga tekanan pada bola mata. Kondisi ini seringkali tidak disadari, karena yg dirasakan biasanya hanya pusing-pusing kepala. Jika pendakian dipaksakan untuk diteruskan maka bisa beresiko pandangan akan menjadi kabur dan tidak menutup kemungkinan memicu kerusakan lebih serius pada mata.

Para pendaki - Perlu kesiapan fisik yang prima dalam mendaki gunung. (foto: haspar/ist)

Para pendaki – Perlu kesiapan fisik yang prima dalam mendaki gunung. (foto: haspar/ist)

5. Diabetes

Pengidap penyakit diabetes sebenarnya tidak dilarang untuk ikut mendaki gunung, hanya saja dianjurkan untuk mengontrol dirinya, dalam arti rutin minum obat dan mengecek kadar gula darahnya. Jika tidak resikonya bisa berbahaya.

Demikian beberapa penyakit yang bagi penderitanya dianjurkan untuk tidak melakukan aktifitas mendaki gunung, karena resikonya bisa bebahaya. #Palontaraq Adventure.

Like it? Share it!

Leave A Response