Beranda Sosial Budaya Narasi Budaya Dimensi Sosial, Hukum dan Agama dalam 'Pappaseng'

Dimensi Sosial, Hukum dan Agama dalam ‘Pappaseng’

Oleh:  M. Farid W Makkulau

Tulisan Sebelumnya:

Tradisi Kaddo Caddi di Pangkep

Baju Bodo dalam Pesta Adat Bugis Makassar

PALONTARAQ.ID – Dalam banyak hal, kita dituntut untuk bercermin dari sejarah dan belajar kembali bagaimana membangun kehidupan sosial kita.

Refleksi diperlukan untuk menata ulang keberadaan kita dalam dimensi ruang dan waktu terkait apa yang seharusnya kita tata dan atur ulang.

Khazanah kearifan lokal seringkali kita lupakan, sehingga pemahaman terhadap kebudayaan kita sendiri tidak utuh.

Salah satu kearifan lokal yang disebut Pappaseng (Pesan-pesan leluhur) sebagaimana pernah dirumuskan Prof Dr H Mattulada, perlu mendapatkan pemahaman yang komprehensif mengenai kandungannya.

Pappaseng itu sendiri menyentuh dimensi sosial, hukum dan agama sebagaimana disebutkan dibawah ini:

Sadda Mappabati Ada’

Ada Mappabati Gau’

Gau’ Mappanessa Tau’

Temmetto Ada’ Ada’ Maja

Tellessu Ada ada Belle

Teppogau Gau Macekko

Temmakkatuna Ripadanna Tau

Tettakkaluppa ri Appologengna

Artinya:

Suara menjelmakan Kata. (Voice bear Word)

Kata melahirkan Perbuatan. (Words reveal Deed)

Perbuatan menerangkan Pribadi. (Deed explain Personality)

Pantang berkata Kasar. (Never say Harash)

Pantang berkata Bohong. (Never say Lie)

Pantang berbuat Curang. (Never do Insincere)

Pantang melukai Perasaan Orang Lain. (Never Disappoint others)

Selalu ingat akan Asal usulnya. (Always remember his Creator).

Kata “Sadda” mengandung pengertian suara yang bersumber dari hati nurani yang suci, sadda mompo’E pole ri ati macinnongngE.

Hati nurani, Ati macinnong dalam khazanah Bugis disebut sebagai “sesuatu yang tidak pernah berdusta”, yang dapat menemukan kebenaran setelah akal pikiran tersesat, selukka ri ale kabo, pusa nawa-nawa, ati mallolongeng. (menyuruk aku di hutan belantara, akal pikiran tersesat, hati nurani menemukan jalan).

Didalam hati nurani itulah diletakkan “tajang” (Cahaya Sang Pencipta), sehingga dapat menerima Saddanna Pawinru’E (Kebenaran Tuhan).

Kebersamaan - Menjaga Pappaseng. (foto: ist/palontaraq)
Kebersamaan – Menjaga Pappaseng. (foto: ist/palontaraq)

Pada prinsipnya Pappaseng berhubungan dengan pembinaan keperibadian dan pembentukan karakter, sesuatu yang sangat mendasar dipahami bahwa, “Perbuatan menerangkan Pribadi”.

Begitu pula prinsip Pantang berkata kasar (Never say Harash), Pantang berbohong (Never say Lie), Pantang berbuat curang (Never do Insincere), dan Pantang melukai perasaan orang lain (Never Disappoint others).

Tidak mudah mengenal manusia dalam konsepsi sosial, tapi ‘Pappaseng’ ini mengajarkan pengenalan manusia bisa dilihat dari perbuatannya, Gau Mappanessa Tau.

Pengertian ini membawa kita menelusuri lebih jauh akan pentingnya ‘Sipakatau’ (Saling Memanusiakan), yang bermakna sama dengan sipakarengngerangi, sipangajari, sipaitai, atau sipakalebbi.

Pengertian nilai ajaran dasar ‘Sipakatau’ ini adalah saling memanusiakan, saling menghargai dan menghormati, yang merupakan nilai dasar yang berdimensi sosial-horizontal.

Nilai “Sipakatau” mengharuskan seseorang memperlakukan orang sebagai manusia, tidak menyebutnya sebagai “asu” hanya karena seseorang itu bukan berasal dari keturunan bangsawan/andi serta menghargai Hak-haknya sesuai prinsip assitinajang (prinsip kepatutan).

Sesungguhnya Budaya Makassar mengandung esensi nilai luhur yang universal, namun kurang teraktualisasi secara sadar dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau kita menelusuri secara mendalam, dapat ditemukan bahwa hakikat inti kebudayaan Bugis Makassar itu sebenarnya adalah bertitik sentral pada konsepsi masyarakat mengenai “tau” (manusia), yang dalam konteks ini, dalam pergaulan sosial, amat dijunjung tinggi keberadaannya.

Dari konsep tau-inilah sebagai esensi pokok yang mendasari pandangan hidup orang Bugis Makassar, yang melahirkan penghargaan atas sesama manusia.

Dalam Sastra Paseng, “Lempu” atau “Malempu” dikenal sebagai perbuatan yang teppugau’ gau’ maceko sebagaimana pula disebutkan dalam Pappaseng diatas, tak melakukan perbuatan curang atau culas.

Malempu’ yang berarti kejujuran, melingkupi atas: Jujur terhadap diri sendiri (malempu’ rialena), Jujur terhadap orang lain (malempu’ ri tolainge’), Jujur terhadap cita-cita (malempu’ risennureng), dan Jujur terhadap Allah, malempu’ ri Allah Ta’ala.

Dengan adanya konsepsi nilai Lempu’ ini, seseorang tidak hanya akan memuluskan jalan kemanusiaan ‘Sipakatau’ tetapi juga jalan kemasyarakatan (Temmakkatuna Ripadanna Tau) dan jalan ketuhanan, Tettakkaluppa ri Appologengna (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT