Beranda Sejarah Lokal Matojeng, Pasar dan Sejarahnya

Matojeng, Pasar dan Sejarahnya

Pasar Matojeng bagi bagian depannya (foto: mfaridwm)
Pasar Matojeng pada bagian depannya (foto: mfaridwm/palontaraq)

Laporan:  M. Farid W Makkulau

Tulisan Sebelumnya: Kembalikan Sejarah Kami!

PALONTARAQ.ID – Nama ‘Matojeng’ bagi masyarakat Kecamatan Minasate’ne Kabupaten Pangkep kembali menjadi familiar disebut. Pasalnya, di daerah ini setiap hari digelar Pasar yang disebut Pasar Matojeng yang sebelumnya hanya digelar setiap Hari Senin, namun di Bulan Suci Ramadhan ini, warga Minasatene dapat setiap hari mengunjungi Pasar Matojeng, dari pagi sampai menjelang buka puasa.

Kehadiran Pasar Matojeng di Bulan Suci Ramadhan sangat dibutuhkan warga Minasatene, khususnya warga Matojeng yang merasa terbantu karena Pasar Sentral Pangkajene (ibukota kabupaten) yang cukup jauh.

Pasar Matojeng terletak di depan Puskesmas Minasatene (eks bekas lokasi Puskesmas Minasatene), sekitar 15 meter dari pertigaan jalan Minasatene-jalan Ujung Loe dan jalanan menuju Kalabbirang-Bontoa. Umumnya pedagang atau penjual di Pasar Matojeng ini adalah warga Minasatene sendiri sehingga jual beli yang terjadi menjadi pengikat persaudaraan dan silaturahim diantara mereka.

Pasar Matojeng. (foto: mfaridwm)
Pasar Matojeng. (foto: mfaridwm)

Untuk berbelanja di pasar tradisional ini,orang harus cepat datang terutama jika ingin membeli ikan laut karena jumlahnya yang sedikit, biasanya tidak sampai Pukul 14.00 WITA sudah habis terjual di pasar ini. Kebanyakan dagangan yang dijual di pasar ini adalah hasil bumi warga Minasate’ne sendiri.

* * *

Jika ditinjau dari aspek Sejarahnya, sebenarnya nama Matojeng adalah nama kuna yang sudah dikenal sejak masa Kerajaan Siang, namun belakangan nama “Minasatene” yang berarti “harapan yang manis” lebih populer sejak Tahun 2000 bagi penamaan Kecamatan hasil pemekaran dari Kecamatan Pangkajene. Matojeng terletak sekitar 7-10 km sebelah selatan dari Pangkajene, ibukota kabupaten Pangkep.

Pasar Matojeng. (foto: mfaridwm)
Pasar Matojeng. (foto: mfaridwm)

Dalam beberapa catatan/map Portugis dari hasil pelayaran Antonio de Payva (Pada Tahun 1542) dan Manuel Pinto ditulis nama “Matugyn” atau “Matugym”, sebagai salah satu kampung di sebelah timur Siang (Kerajaan Siang).

Diduga kuat “Matugyn” merupakan salah satu unit politik yang membentuk konfederasi Siang. Keterkenalan Matojeng ini dalam Sejarah Lokal membuat beberapa Tokoh Masyarakat Pangkep mengusulkan nama Matojeng sebagai nama kecamatan baru pemekaran dari Kecamatan Pangkajene.

Pada Tahun 2000 di masa pemerintahan Bupati Pangkep HA Gaffar Patappe dibentuklah tiga kecamatan baru menjadi Kecamatan Minasatene (yang sebelumnya merupakan bagian dari Kecamatan Pangkajene), Kecamatan Mandalle (yang sebelumnya merupakan bagian dari Kecamatan Segeri), Kecamatan Tondong Tallasa (yang sebelumnya merupakan bagian dari Kecamatan Balocci).

Kecamatan Minasatene, seperti juga Kecamatan Mandalle dan Tondong Tallasa, sebelumnya adalah kecamatan pembantu/perwakilan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tk. I Sulawesi Selatan Nomor SK 81/II/1995 Tanggal 6 Februari 1995 dan SK.953/XI/Tahun 1998 Tanggal 14 November 1998 sebagai penjabaran dari ketentuan Pasal 66 (6) UU No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Keputusan inilah yang menjadi dasar hukum peningkatan status kecamatan perwakilan menjadi kecamatan definitif dengan persetujuan DPRD Pangkep No 22/KPTS/VI/2000 tertanggal 14 Juni 2000.

Nama-nama kampong tua yang sekarang masuk wilayah administratif Kecamatan Minasate’ne adalah Kampung Male’leng, Bu’nea (Biraeng), Belaya, Sabila, Lesang, Bonto Te’ne, Ujung Loe, Matojeng dan Kajuara. Kecamatan Minasa Te’ne meliputi wilayah Kelurahan Minasa Te’ne, Kelurahan Kalabbirang, Kelurahan Bontoa, Kelurahan Biraeng, Kelurahan Bonto Kio, Desa Bonto Langkasa, Desa Kabba, Desa Panaikang (Pasal 1 Perda No 13 Tahun 2000).

Luas wilayah Kecamatan Minasa Te’ne ¬¬sekitar 79,15 km2 (berdasarkan data terbaru hasil survey Bakosurtanal, luas wilayah kecamatan ini adalah 96.479 km2) dengan batas wilayah Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Bungoro, sebelah selatan Kabupaten Maros, sebelah barat Kecamatan Pangkajene, dan sebelah timur dengan Kecamatan Balocci (Pasal 4 Perda No. 13 Tahun 2000)

Di Kecamatan Minasatene ini pernah ditemukan topeng emas di belakang Mesjid Ujung LoE dan dikenal sebagai “situs Matojeng”. Penemuan topeng emas ini menjadi bukti kuna bahwa masyarakat kala itu menganut keprcayaan Paganisme.

Sayangnya, topeng emas tersebut kini tidak diketahui dimana keberadaannya sejak ada permintaan dari Pemerintah Pusat Jakarta untuk dipamerkan. Kini, generasi muda, masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Pangkep tenggelam dalam kegelapan sejarah dan hanya bisa berharap semoga suatu saat benda peninggalan sejarah tersebut dapat ditemukan dan dikembalikannya ke Pangkep. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT