Beranda Feature Aku ingin Menjadi "Luwu"

Aku ingin Menjadi “Luwu”

Toddopuli Temmalara. (foto: ist/palontaraq)
Toddopuli Temmalara. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: La Oddang Tosessungriu

PALONTARAQ.ID – Suatu ujar menarik dari seorang Guru Besar di Makassar, bahwa: “Semakin banyak Orang Luwu yang saya temui, semakin sedikit Orang Luwu yang saya temukan”. Wahai, apa maksudnya?

Bahwa Luwu adalah nama suatu bangsa yang paling banyak versi dalam pemaknaannya. Ada yang menyatakan itu berarti “Laut”, ada pula yang menyebutnya sebagai “timur” (alauu), ada juga yang memaknainya sebagai “Luu’” yang pada kosa katanya kemudian berubah menjadi “liu”, lalu kini dalam Bahasa Ware’ sehari-hari dikenal sebagai “liwu” (terisi, penuh, solid), dan lain sebagainya.

Maka dalam hal ini saya lebih memilih memaknainya sebagai sesuatu yang “liu” atau terisi penuh dan tertutupi penuh rahasia karena kepadatan kandungan isi di dalamnya.

Ibarat sebatang bambu emas yang setiap ruasnya merupakan ruang-ruang kosong, dimana salahsatu ruasnya pernah menjadi ruang tumpangan yang memuat PapoataE ManurungngE ri Ussu’, maka sesungguhnya ruas lainnya sungguh terisi penuh pula dengan makna dan nilai kearifan hidup.

Hingga kemudian, sebuah pertanyaan yang muncul : dimanakah kini bilah bambu tumpangan PapoataE ManurungngE beserta segenap kandungan makna kearifan hidup itu berada?

Sungguh Allah Maha Mengetahui, namun sekiranya ini adalah hidayah, maka dengan pasti kujawab : Adanya pada Ininnawanna To Luwu’E (Nurani Setiap Orang Luwu). Maka siapakah “To Luwu” itu?

Sungguh tiada keraguan sedikitpun dalam hatiku bahwa To Luwu itu, adalah :

1. To Luwu Assiamekenna (Orang yang penuh sempurna Kesatuannya)

Bahwa “assiamemekeng” (pembauran) adalah mesti dari elemen yang beragam. Maka Bangsa Luwu sebagai suatu Bangsa Yang Besar mestilah terdiri dari suku yang beragam pula, sebagaimana yang tergambar pada Guci PEgo yang terisi air Mata Air Sungai CErEkang.

Air jernih dalam wadah guci besar yang berasal dari berbagai elemen tanah beraneka warna, dimana ukuran besar dari guci tersebut memungkinkan air didalamnya menjadi tenang dan stabil, sehingga amat layak dijadikan cermin wajah bagi Yang Mulia PapoataE Datu/Pajung Luwu secara turun temurun dan berkelanjutan.

Makna kearifan yang tersirat dari PEgo ini tiada lain, bahwa Bangsa Luwu dalah Bangsa Yang Besar, mewadahi 12 Anak Suku yang hidup tentram dan damai didalamnya.

Ketentraman dan solidaritas ke-Luwu-an Bangsa Besar ini adalah cerminan kemuliaan penuh berkah yang tergambar dari “Sifat-Sifat Langit Peradaban” yang dibawa oleh PapoataE ManurungngE.

Bahwa guci “PEgo” yang adalah berasal dari Bahasa Ware’, artinya: “Kemana”. Suatu pertanyaan bagi setiap manusia yang mengemban amanah hidup, yakni : “pEgo lao ?” (kemana kau hendak menuju ?).

Bahwa kemanapun anda menuju, pada akhirnya jua akan tiba pada takdir yang telah ditentukan Yang Maha Kuasa, sesuai ikhtiar yang menyertai perjalananmu.

Kemanapun jua setiap Wija Luwu terlahir, bersamanya senantiasa ada darah Luwu yang menjadi amanah untuk dipenuhinya. Amanah Solidaritas yang melampui sekat keyakinan Agama, Suku maupun Golongan.

2. To Luwu Alebbirengna (Orang yang Penuh Martabat)

Adab yang diwariskan PapoataE ManurungngE ri Ussu senantiasa menempatkan martabat kemanusiaan diatas segala apapun. Maka Bangsa Luwu adalah bangsa yang memiliki peradaban tinggi, hal yang terbukti dalam eksistensinya sebagai Kerajaan Tertua di Sulawesi Selatan dan Barat.

Bangsa Luwu bukanlah bangsa primitive, sehingga berita tentangnya diuraikan dengan penuh kemuliaan dalam suatu naskah Sure’ I La Galigo yang telah menjadi Warisan Dunia.

Maka Luwu Alebbirengna ini senantiasa ditandai dengan “Luwu AkkamasEnna” (penuh berbelas kasih) sebagai dasar pembentukan pemerintahan pertama pada jazirah Sulawesi ini yang menjadi pioneer bagi negeri-negeri lainnya.

Hak ini adalah berkat keutamaan Ilmu Pengetahuan (Luwu Pangissengenna) sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT kepada setiap manusia yang berilmu pengetahuan.

Luwu Alebbirengna yang adalah pahala dari keutamaan Paddissengeng dan PakkamasEna ini sesungguhnya mengatasi segala apapun dalam gelanggang takdir kehidupan, termasuk: Awaraningeng (keberanian).

Suatu kearifan yang termaknai berkat : Alebbireng Gau’ PangampE (kemulian prilaku), Alebbireng Pangadereng (kemuliaan adat istiadat) dan Alebbireng PappEjeppu (Kemuliaan Pemahaman).

Wallahu ‘alam Bish-shawab. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...