Beranda Sosial Budaya Bahasa Daerah Mengenal ‘Bahasa Kerbau’ Petani Makassar

Mengenal ‘Bahasa Kerbau’ Petani Makassar

Membajak sawah dengan 'bahasa kerbau'. (foto: ist/palontaraq)
Membajak sawah dengan ‘bahasa kerbau’. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – Mengembala atau membajak sawah dengan kerbau adalah pemandangan umum yang dapat kita saksikan di banyak wilayah pedesaan dan pedalaman.

Pemandangan tersebut umumnya dapat dilihat pada saat musim turun sawah, para petani biasanya menggunakan dua kerbau untuk membajak sawahnya. Dalam terminologi Bugis disebut siajoa, dan dalam kosakata Makassar disebut siajoka, yang artinya berpasangan.

Bagi yang pernah melewatkan masa kecilnya di Sulsel, mungkin jamak kita saksikan Appajjeko (makassar : membajak sawah) atau Akkalawaki Tedong (Bahasa Makassar: mengembala kerbau), mungkin masih ingatkah kata-kata ini : helee …, higoo …, irrii …, higo hiya, higo daha …., hooo …. hiiihhh … huuuuhhh …..

Ungkapan-ungkapan tersebut adalah sebagian ‘bahasa kerbau’ yang dipahami orang Makassar, khususnya petani. Adakah kita juga mengetahuinya ?

Kalau merujuk kepada ukuran yang sawah yang umumnya segi empat, maka paling tidak  saya temukan ada enam macam kata (perintah singkat) bahasa kerbau yang diucapkan petani, yaitu:

1. jika kerbau diperintahkan belok kanan, maka dikatakan helee ….

2. jika kerbau diperintahkan belok kiri, maka dikatakan higoo …

3. jika kerbau diperintahkan lurus atau cepat, maka dikatakan irrii ….

4. jika kerbau diperintahkan balik kanan, maka dikatakan higo hiyaa… higo dahaa …. (biasanya diucapkan berkali2).

5. jika kerbau diperintahkan jalan, maka dikatakan hiihhh …. atau huhhhh …..

6. jika kerbau diperintahkan berhenti, maka dikatakan hoohhhh …..

“Heee lekkoe …… (luruskan jalanmu)

“Labuleng irriiii …..labuleng Hooo ….. (percepatlah langkahmu).

Membajak sawah dengan 'bahasa kerbau'. (foto: ist/palontaraq)
Membajak sawah dengan ‘bahasa kerbau’. (foto: ist/palontaraq)

Selain itu, Uniknya, kerbau juga diberi nama berdasarkan warna dan corak kulitnya, seperti warna bulu kepalanya putih, bulu ekornya putih, bulu lututnya putih, tanduknya jila, badannya hitam dan matanya putih maka disebut kerbau camara.

Kadang juga kerbau dinamai berdasarkan tanduknya, bentuk dan ukurannya tanduknya yg berbeda. Ada yang namanya : Jila, Coko, Pampang atau jarappa. Hal ini dengan sendiri menjadi pemahaman atau kearifan tradisional petani Makassar, sebagai upaya ‘memahami kerbau’ untuk kelancaran garapan sawahnya.

Bentuk ajoa (ajoka) pada bajak petani ini juga yang mengilhami Perempuan Makassar di kampung dalam membuat kue tradisional pengantin, yang bernama sama, ajoa atau ajoka, yaitu bentuk kue kering yang berbentuk huruf delapan.

Disebut ajoa atau ajoka karena lubangnya ada dua (berpasangan). Kue pengantin tersebut juga merupakan salah satu kue pengantin yang harus ada dalam Upacara Adat Perkawinan Makassar. (*)

 

(*Sumber: Tulisan ini pernah dimuat/dipublish sebelumnya, dengan penulis dan judul tulisan yang sama, di Media Blog Sosial, Kompasiana, terupdate: 31 March 2011

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT