Kearifan Lokal Bugis dalam Manajemen Perusahaan

Ir. Mukhtar Ali

Ir. Mukhtar Ali dan BKI yang dipimpinnya merujuk kepada kepemimpinan berbasis kearifan lokal. (foto : doc.humasbki)

Oleh: Etta Adil

DALAM Budaya Bugis, banyak sekali kita dapati anjuran untuk memahami dan mempraktekkan Akkatenningeng, prinsip dasar hidup personal sebagai pegangan sosial (bermasyarakat) termasuk pranata pertahanan diri, Siri’ (malu atau harga diri).

Keindahan Pribadi seperti Lempu’ (jujur), Acca (cerdas), Warani (berani), Getteng (integritas; teguh pendirian), dan Sipakatau (saling memanusiakan) merupakan sifat-sifat yang baik bagi kepemimpinan.

Bukan hanya bagi kepemimpinan dalam pemerintahan, tetapi juga dalam aplikasinya sangat baik dalam memajukan usaha/perusahaan. Kalau Lempu, Acca Warani, dan Getteng adalah kebutuhan personal maka Sipakatau adalah kebutuhan sosial (mempererat persaudaraan, meluaskan kekerabatan dan membina relasi).

Kelima prinsip dasar ini akan senantiasa terjaga jika diikat oleh Mappesona ri Pawinru Dewata Seuwae’ (Memohon Perlindungan dan Ridho Ilahi Rabbi, Tuhan yang Maha Esa).

Prinsip dasar hidup/tata nilai bagi orang Bugis Makassar ini merupakan hasil adaptasi pengetahuan yang dikomunikasikan dari generasi ke generasi sehingga menjadi kearifan lokal (local wisdom) tersendiri yang membimbing perilaku masyarakat dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan seperti perkawinan, hubungan keluarga, hukum, instutisi politik dan ekonomi.

Kearifan lokal dapat menjelma sebagai substansi ucapan maupun sebagai praktek kehidupan. Kepemimpinan dalam Pemerintahan akan bersih dan bertanggung jawab jika pribadi yang ada didalamnya senantiasa menjaga siri’ (rasa malu/harga dirinya) dan sipakatau (sipakainge’, sipakalebbi).

Begitupun dengan perusahaan akan terpercaya, kredibel, dan memiliki reputasi yang baik jika pribadi-pribadi didalamnya, khususnya pemimpinnya menjaga kestabilan siri’ dan sipakatau-nya.

Dalam Lontaraq’, Siri digambarkan sebagai pencerminan diri, termasuk akibat yang ditimbulkannya. Pribadi yang merasa malu (siri’) akan senantiasa termotivasi dan memotivasi dirinya untuk melakukan yang baik (do the best), karena tak ingin merasa malu atau disinggung harga dirinya, hanya karena kualitas pekerjaannya menurun atau tidak baik.

Seseorang yang menjaga Siri’-nya atau harga dirinya akan menonjolkan prestasi (prestatif), dimanapun dia berada, di lapangan pemerintahan, sosial maupun di lingkungan kerja atau perusahaan.

* * *

Dewasa ini penting melakukan interpretasi terhadap kearifan lokal bentuk revitalisasi dalam menghadapi pengembangan peradaban serta pergaulan global. Hal ini berfungsi mendorong motivasi kerja, sosial kontrol, rasa tanggung dan dinamisator sosial. Menurut (alm) Prof Dr Abu Hamid, Kalau siri’ merupakan taruhan harga diri, maka harga diri tersebut harus diangkat melalui kerja keras, berprestasi, berjiwa pelopor dan senantiasa berorientasi keberhasilan.

Konsepsi inilah yang saya lihat dari pribadi Ir. Muchtar Ali saat memimpin PT. Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), yang mana Akkatenningeng dan Siri’ tidak hanya sekedar konsepsi, tetapi merupakan pencerminan diri dalam setiap perilaku dan kebijakan yang mewarnai manajemen perusahaan.

Ir. Muchtar Ali (kanan), Kelola perusahaan dengan kearifan lokal (foto: ist/humasbki).

Ir. Muchtar Ali (kanan), Kelola perusahaan dengan kearifan lokal (foto: ist/humasbki).

Penerapan kearifan lokal dalam menjaga stabilitas kerja dan manajemen perusahaan itu, paling tidak tergambar sebagai Motto dan Nilai Perusahaan PT. BKI.

Motto perusahaan BKI adalah “TERPERCAYA” (lempu/malempu), yang berarti jasa yang diberikan haruslah berkualitas, dalam arti dapat diandalkan, efisien, tepat waktu dan memiliki reputasi. Untuk mencapai tujuan, maka perusahaan menetapkan nilai yang harus dijaga dan dikembangkan, yaitu INTEGRITAS (getteng), PROFESIONALISME (acca/macca).

Selanjutnya nilai-nilai perusahaan yang ingin dicapai selanjutnya seperti KEPUASAN PENGGUNA JASA, KEPEMIMPINAN dan PENGHARGAAN PADA KARYA/PRESTASI KARYAWAN hanya dapat dicapai jika diterapkan Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi (saling memanusiakan, saling mengingatkan, dan saling menghargai).

Sebagai sebuah perusahaan besar yang ingin selalu maju dan berkembang, maka untuk menghadapi tantangan gerak perubahan dan persaingan tentu Nilai-nilai kearifan lokal tersebut tetap diperlukan sebagai filter dan sistem gerak dinamisasi sesama komponen bisnis (subjek dan objek jasa perusahaan) dalam melaklukan reposisi dan revitalisasi.

Reposisi dan Revitalisasi itu hanya dapat berjalan sesuai motto dan Nilai-nilai perusahaan jika dapat menerapkan Budaya Perusahaan “TERTIB”, yaitu Taqwa kepada Tuhan YME, Etos kerja yang tinggi, Reputasi yang senantiasa ditingkatkan, Tertib dalam menerapkan kebijakan manajemen dan sikap pribadi, Ilmu pengetahuan dan Teknologi yang dikuasai serta Baik dalam pelayanan dan hasil kerja.

Pesan leluhur yang mengatakan, “Aja numaelo ribetta makkala ri cappa’na letenge’ (Bahasa Bugis, Artinya: Jangan engkau mau dikalah berjalan sampai di ujung titian), hendaknya dapat menjadi pesan untuk maju dan berkembang, sesuai arah dan cita-cita yang ingin diraih.

Demikian, semoga bermanfaat adanya. (*)

Like it? Share it!

1 Comment so far. Feel free to join this conversation.

Leave A Response