Beranda Sosial Budaya Narasi Budaya Kritik terhadap FTV "Badik Titipan Ayah"

Kritik terhadap FTV “Badik Titipan Ayah”

FTV Badik Titipan Ayah
FTV Badik Titipan Ayah (sumber gambar: budhiyanto.com)

Oleh:  Etta Adil

Nonton FTV Badik Titipan Ayah: DISINI

PALONTARAQ.ID – Dalam berbagai kesempatan, saya selalu menayangkan Film Televisi (FTV) produksi Karya Sinema “Badik Titipan Ayah” yang tersimpan dalam hardisk laptop pada pelajar dan mahasiswa yang bertanya tentang Silariang (kawin lari).

Pun beberapa waktu lalu, penulis menggelar nonton bareng (nobar) bersama masyarakat Tondongkura yang dikenal religius untuk membedah konsepsi “Silariang”, dahulu dan kenyataan yang terjadi pada masa kini.

Silariang (Makassar: sama-sama lari) merupakan salah satu kebersalahan (Annyala) dalam hubungan cinta kasih yang terlarang dan dianggap aib besar dalam masyarakat.

Selain Silariang, juga tindakan yang dianggap Annyala adalah “Nilariang” (makassar: dibawa lari) dan Erangkale (makassar: lari sendiri). Nilariang yaitu suatu kondisi seorang gadis dibawa lari oleh kekasihnya karena tidak mendapat restu dari kedua belah pihak orang tuanya, sedang Erangkale yaitu suatu kondisi seorang gadis lari dari rumahnya karena tidak setuju atas pemuda yang dijodohkan untuknya.

FTV Badik Titipan Ayah bagi saya dapat menjadi bahan diskusi menarik tentang tindakan “Annyala”, khususnya tentang Silariang dan bagaimana keluarga si gadis melakukan proses pencarian dan upaya membunuh keduanya (pasangan muda mudi yang lari tersebut) sebagai tindakan “pattongko siri” (penutup malu/aib keluarga).

Terlepas dari kontroversial solusi yang ditawarkan di akhir cerita, FTV ini sendiri menarik untuk dikaji dari segi Sosiologi Hukum, Budaya dan Agama.

Sebagian besar penonton laki-laki FTV ini menyukai prototipe pemuda Makassar yang menjunjung tinggi Adat dan mengharuskan Siri’ (Silariang) harus terbayarkan dengan mengalirkan darah Firman (Guntara Hidayat).

Kekasih Andi Tenri nampaknya diwakili oleh Limpo (Ilham Anwar) yang dalam cerita FTV ini berperan sebagai “pa’lapa barambang”, pengikut setia Karaeng Tiro, sedang penonton perempuan cenderung akomodatif dan setuju dengan penyelesaian akhir cerita ini “yang tanpa darah”.

Dalam FTV berlatar kultur Bugis Makassar yang pernah ditayangkan SCTV ini digambarkan Andi Aso (Reza Rahadian) yang mendapatkan ‘kehormatan’ dari Tettanya, Karaeng Tiro (diperankan oleh Aspar Paturusi) sedang Limpo sebagai pengawalnya untuk membunuh pasangan silariang yang diperankan oleh Tika Bravani (sebagai Andi Tenri) dan Guntara Hidayat (sebagai Firman) sebagai upaya menegakkan harga diri dan menutup malu dalam pandangan Adat Bugis Makassar.

Sayangnya, cerita penyebab dendam keluarga sebagaimana diceritakan oleh Ibu (Amma) Andi Aso (Karaeng Caya diperankan oleh Widyawati) itu tidak kuat, dendam kesumat antar orang tua yang penyebabnya tidak digambarkan begitu kuat sebagai Siri’. Hanya konflik bisnis biasa rasanya terlalu “sepele” untuk dijadikan alasan mendendam bertahun-tahun.

Atas dasar “permintaan” Ibu Andi Aso inilah yang mengakibatkan akhir cerita silariang ini berujung akomodatif Kalau terjadi perkawinan atas dasar “Silariang” maka dalam kacamata syari’at islam, perkawinan tersebut tidak sah karena tanpa wali perempuan.

Umumnya masyarakat yang religius cenderung akan melihat perkawinan itu bukan sekedar sebagai Siri’ (Aib/Malu), tapi juga merupakan pelanggaran syari’at. Selama ini Silariang dijadikan “solusi” bagi pasangan yang tidak direstui orang tua.

Jadi, sejatinya Siri’ adalah masalah dan aib besar, namun dalam FTV Badik Titipan Ayah garapan sutradara Dedi Setiadi ini justru tergambar sebagai solusi.

Salah satu adegan dalam FTV Badik Titipan Ayah.(sumber foto: gunjhieland2.blogspot.com).
Salah satu adegan dalam FTV Badik Titipan Ayah.(sumber foto: gunjhieland2.blogspot.com).

Penyelesaian akhir setelah badik terhunus (yang seharusnya mengambil darah pelaku silariang), terlihat memang bijak tapi tidak menggambarkan Budaya Sulawesi Selatan yang sebenarnya yang tidak memberi toleransi terhadap Silariang.

Dalam budaya Bugis Makassar, pelaku Silariang kalau memang tidak dibunuh, minimal keduanya dibuang / dilupakan oleh keluarganya atau tidak diakui lagi sebagai bagian dari keluarga karena pelanggaran siri’ lebih dihormati daripada kerukunan.

Dalam konteks itulah, hukum adat begitu kuat dan pada titik tertentu sejalan dengan Hukum Islam “Dirajam” yang memberi efek jera pada pelaku kawin lari/zina. (*)

 

 

Tentang Penulis

Etta Adil, seorang Penulis , Founder Komunitas Palontaraq dan Pengasuh Rumah Baca Palontaraq. Karya bukunya meliputi berbagai bidang dan tema, Biografi, Sejarah, Sosial Budaya, Pendidikan, dan Fiksi. Beberapa karyanya antara lain: Sejarah dan Kebudayaan Pangkep (Pemkab Pangkep, 2007), Sejarah Kekaraengan di Pangkep (Pustaka Refleksi, 2008), Manusia Bissu (Pustaka Refleksi, 2008), Antologi Puisi-Penjara Suci (Pustaka Puitika, 2015),  Surat Cinta untuk Bidadari Kecilku di Surga (Pustaka Puitika, 2015).

 

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT